Esai · inSIGHT
Yang Tersisa dari Lonceng Subuh
Dua puluh tahun setelah meninggalkan asrama, ada bunyi yang tidak pernah benar-benar pergi. Esai tentang disiplin yang berubah menjadi kerinduan.
- Penulis
- Ahmad Zulfikar(Penulis Tamu)
- Editor
- Salma Huraira
- Terbit
- 8 Agustus 2026
- Durasi
- 6 menit
Lonceng subuh di asrama tidak pernah meminta izin. Ia membangunkan siapa saja dengan keyakinan penuh bahwa hari harus dimulai.
Bertahun-tahun kemudian, di apartemen yang sunyi, saya justru memasang alarm dengan nada yang mirip — dan baru sadar bahwa yang saya rindukan bukan bunyinya, melainkan kepastian bahwa ada yang peduli saya bangun.
Disiplin, ternyata, adalah bentuk kasih sayang yang baru bisa dibaca setelah jaraknya cukup jauh.
Esai ini bukan nostalgia manis. Ada juga yang perlu diakui: lelahnya, kerasnya, hari-hari ketika disiplin terasa seperti hukuman. Tetapi jarak memberi tafsir baru pada semua itu.
Mungkin begitulah cara pendidikan bekerja: ia tidak selesai saat kita lulus, ia baru mulai terbaca.
- #refleksi
- #asrama
- #memoar
Cerita Lainnya
Profil Alumni
Dari Dapur Kontrakan ke Tiga Kota: Jalan Panjang Sambal Kemasan Ustadzah Rif’ah
Nadia Rahmi · 21 Agustus 2026
Liputan
Menghitung Ulang Wakaf: Ketika Alumni Mengelola Sawah Produktif
Rizky Maulana · 27 Juli 2026
Wawancara
“Sinyal Datang Jam Sepuluh Malam”: Wawancara dengan Pengajar di Pedalaman Kalimantan
Salma Huraira · 5 Juli 2026